Labels

Thursday, July 30, 2020

Gulaab gang : perseteruan dua wanita dalam dunia politik


Halo, jumpa lagi dengan saya Asaf Yo, semoga kalian tidak bosan memaca review film dari saya. Film yang saya bahas kali ini adalah film berjudul Gulaab Gang yang dibintangi Juhi Chawla dan Madhuri Dixit. Adanya dua bintang tenar merupakan salah satu alasan saya memutuskan untuk menonton film ini disamping temanya yang cukup unik, yaitu tentang dunia politik dan intrik yang terjadi di dalamnya. Film ini dirilis tahun 2014 disutradari oleh Soumik Sen

Kisahnya mengenai kelompok Gulaab gang yang dipimpin oleh Rajoo (Madhuri Dixit) di desa Madhopur dalam memerangi ketidakadilan yang terjadi di wilayahnya. Ketidak adilan yang tergambar di film ini adalah masalah listrik, pendidikan, kekerasan dalam rumah  tangga maupun pemerkosaan. Karena usaha untuk melawan ketidak adilan, Rajoo harus berurusan dengan seorang politikus licik, Sumitra Bagrecha yang diperankan oleh Juhi Chawla. Sumitra menawarkan untuk berkoalisi kepada Rajoo, tapi ditolak oleh Rajoo yang ingin maju sendiri dalam pencalonan caleg di wilayahnya.


Gulaab Gang ini bisa dibilang kelompok wanita yang hidupnya tertindas dan menginginkan keadilan. Anggota dari Gulaab gang adalah para wanita wanita yang tertindas . Dikelompok ini, Rajjo mengajarkan tentang pendidikan, suatu hal yang sukar dia dapatkan diwaktu dia masih kecil karena masalah keluarga. Contoh dari wanita yang tertindas dan akhirnya bergabung dalam kelompok ini adalah kala seorang wanita bernama Kajri yang diusir oleh mertuanya hanya karena dia kurang membayar mas kawinnya pada keluarga laki laki. Suaminya pun tidak membantunya, malah ikut menganiaya dan mengusirnya padahal sang menantu perempuan ini adalah kalangan berpendidikan. Kita bisa melihat bahwa wanita yang berpendidikan pun tidak mampu menentang suatu budaya, bahkan dia akhirnya tunduk pada budaya itu. Terlihat bagaimana dia ketakutan dan seperti tidak memiliki hidup setelah diusir oleh mertuanya dan berniat bunuh diri di jembatan sebelum akhirnya dicegah oleh Mahi, anggota kelompok Gulaab Gang dan juga tangan kanan Rajoo.

Atau tindakan gulaab gang yang memaksa pejabat terkait untuk mengalirkan listrik ke desanya saat pejabat yang bersangkutan meminta uang lebih agar desa itu mendapat pasokan listrik. Kelompok Gulaab Gang akhirnya mengurung pejabat di kantornya dalam kegelapan  sebelum akhirnya menyetujui pasokan listrik ke desa.

Konflik dengan Sumitra mulai terjadi kala anak dari Pawan memerkosa gadis desa yang masih di bawah umur. Pawan adalah sekutu politik Sumitra sekaligus calon besar Sumitra. Tuntutan Rajjo agar anak pawan mendapat hukuman tidak digubris, malah dia menawarkan ganti rugi kepada Rajjo agar tidak memperpanjang masalahnya. Kelompok Gulaab Gang akhirnya memberikan hukuman terhadap anak Pawan.

Sumitra sangat berkuasa, bahkan Pawan yang ingin bertemu dengannya tanpa diundang pun baru bisa bertemu dengan Sumitra setelah dia bersedia merangkak melewati kedua kaki sekretaris Sumitra. Aku suka acting Juhi  yang mampu menampilkan sosok licik dan kejam dari Sumitra ini. Cara dia tersenyum itu benar benar senyuman antagonis banget hahahaha.

Untuk menjebak Rajoo, sumitra pun memperalat orang dalam Gulaab gang, yaitu pacar Mahi untuk menyingkirkan Mahi, Sayangnya sang lelaki juga akhirnya disingkirkan oleh kaki tangan Sumitra dengan cara yang sama seperti dia membunuh Mahi. Oh ya, ada beberapa dialog di film ini tentang kematian suami Sumitra. Aku jadi curiga bahwa Sumitra lah yang membunuh suaminya, mungkin selain untuk kepentingan politik, dia juga menginginkan uang asuransi suaminya yang begitu besar.
Sumitra sebagai politikus yang sangat berkuasa juga mampu menguasai kepolisian. Hmmmm, dilihat dari apapun maka Rajoo sudah pasti kalah.Aku yakin kalau kemenangan Sumitra pun juga karena kecurangan mengingat para polisi yang menjaga dan menghitung hasilpemilu adalah polisi polisi bayaran Sumitra.

Pencitraan politik juga dimunculkan di film ini. Bagaimana Sumitra terlihat sangat dekat dengan rakyat dengan menggendong anak, maupun membagi-bagikan kain kepada penduduk (disaat yang sama dia juga langsung meggunakan hand sanitizer sesudah bersentuhan dengan para penduduk desa, menyebalkan sekali di momen ini) samba diliput oleh media tentu saja.

Termasuk saat dia menyetujui pembangunan sekolah yang direncanakan oleh Rajjo, alih alih menolak proposal, dia juga menyetujui pembangunan itu dengan mengundang media dan memberi syarat pada Rajjo agar nama Sumitra ditulis di papan nama sekolah itu. Sebuah deal deal politik yang lumrah terjadi, dan Rajjo terlihat dari ekspresi dan gesture tubuhnya bagaimana dia membenci deal deal politik ini.

Bagaimana akhir dari dua wanita ini? Tonton aja film ini, dijamin kalian akan menyukainya.





No comments:

Post a Comment