Labels

Wednesday, January 6, 2021

Article 15 : Pembunuhan berlatar belakang perbedaan kasta di India

 

Halo semua, kali ini aku akan membahas tentang film yang memiliki kritik social cukup pedas , tapi filmnya adalah film India lho, film yang menyoroti perbedaan dalam kasta di masyarakat yang masih sangat kental. Filmnya berjudul Article 15 yang tayang tahun 2019 kemarin. Kok bisa berjudul seperti itu? Kalian akan mengetahui nanti kalau sudah melihatnya. hehehe

Film ini menceritakan sosok Ayan Ranjana, seorang perwira polisi dari Delhi yang dipindah tugaskan di wilayah pedesaaan/kota kecil Laalgon, Kawasan di negara bagian uttar Pradesh. Ayan yang berpendidikan luar negeri serta menghabiskan hidup di kota besar terkejut bagaimana dia melihat perbedaan kasta yang sangat kental dalam masyarakat.

Kemudian di desa tersebut, terdapat 3 gadis yang diperkosa, dua gadis gantung diri di pohon sementara satu gadis bernama Pooja masih menghilang. Mereka berasal dari kasta Dalit, kasta yang sangat rendah derajatnya diluar 4 kasta yang ada,  dimana pekerjaan pekerjaan rendahan dilakukan oleh mereka, mulai dari menguliti, membersihkan hal yangberkaian dengan limbah atau sampah .

Masalah menjadi pelik karena polisi berusaha menutupi kasus kematian dua gadis yang masih di bawah umur itu dan memaksa orangtua sang gadis membuat laporan kalau mereka yang membunuh anak gadisnya sendiri karena ada rumor buruk bahwa keduanya melakukan hubungan lesbian.

Hal yang sangat konyol kala kedua orangtua sang gadis yang justru di penjara karena tekanan dari polisi.Ternyata di desa itu hal yang sudah biasa untuk mencari kambing hitam dengan menyalahkan orangtua sang gadis. Itu semua hanya karena mereka berasal dari kasta rendah.

Polisi senior , Brahmadatt berupaya membuat Ayan untuk menutup kasus ini karena mereka berhadapan dengan seorang dari kasta tinggi, Anshu Naharia. Apalagi ayahnya juga merupakan seorang politisi. Para polisi mengkuatirkan dirinya karena Ayan hanya akan sebentar disana, sementara sesudah itu, para polisi akan kena getahnya.

Ayan yang tidak peduli dengan tekanan Brahmadatt, termasuk tekanan dari Panicker, petugas CBI ( ini semacam FBI di India) untuk melepaskan kasus ini. Panicker sebagai wakil CBI mengingatkan Ayan bahwa Ayan harus memelajari tatanan social dalam masyarakat sebelum membuat keputusan besar.

Ayan yang marah dengan ketatnya sistem kasta di tempat itu kemudian menegaskan tentang pasal 15 UU di India yang berkaitan dengan tidak boleh adanya diskriminasi seseorang berdasarkan suku agama ras kasta yang ada. Apalagi dia melihat hasil visum bagaimana para gadis itu diperkosa massal selama beberapa hari sebelum akhirnya digantung hidup hidup diatas pohon.

Ayan terkejut saat mengetahui bahwa para gadis itu hanya menuntut kenaikan 3 rupee saja dari pekerjaannya di tempat Anshu Naharia, dan justru akibatnya begitu besar bagi hidup mereka. Ayan semakin shock saat ada polisi yang juga terlibat dalam peristiwa kematian para gadis itu.

Melihat film ini dari awal sampai akhir membuat saya agak deg degan. Saya membayangkan keputusan apa yang harus saya lakukan jika saya menjadi ayan. Apakah saya akan mengikuti hukum yang berlaku dalam tatanan masyarakat, atau hukum negara.

Jika saya mencoba menggunakan hukum negara, apakah saya bisa melawan kekuatan besar itu? Masyarakat itu sendiri. Di film ini, ada tokoh Nishad, seorang revolusioner yang berusaha melakukan kegiatan untuk kesetaraan antara kasta atas dan bawah (tapi dia akhirnya mengalami kegagalan saat dia diculik dan akhirnya tewas dibunuh, entah oleh siapa)

Tewasnya dua gadis itu juga sebagai cara untuk menakut nakuti para penduduk dari kasta bawah agar mereka tidak macam-macam dengan sistem social yang sudah mengakar kuat disana. Mereka bisa disembunyikan mayatnya, tapi kenapa harus di perlihatkan dan dengan cara digantung untuk kemudian ditemukan. Jawabannya hanya karena mereka adalah para gadis dari kasta bawah yang tidak punya power apapun dalam masyarakat dan supaya orang lain juga tidak membangkang dengan segala perilaku yang dilakukan oleh masyarakat dari atasnya. Mereka digantung di sana hanya untuk mengingatkan dari kasta apa mereka berasal.

Ayan berusaha membuat perbedaan. Sebagai seorang pria dari kasta brahmana, dia harusnya tidak masuk ke dalam lumpur/rawa rawa untuk mencari satu gadis yang masing terhilang. Ya, di tempat itu, hal tersebut tidak mungkin dilakukan oleh para penduduk dari kasta atas. Apalagi disaat yang sama mereka kekurangan orang karena ada mogok massal pekerja yang dilakukan oleh masyarakat dari kasta Dalit sehingga menghambat pekerjaan mereka. Mungkin karena pendidikannya yang tinggi dan juga terbiasa hidup di kota besar maka sistem kasta yang begitu ketat tidak begitu dia temukan seperti di sini.

Perbedaan antara kasta atas dan bawah yang begitu kental juga dibawa ke dalam pemilihan politik. Suatu strategi politik yang hanya topeng saja. Mahanji dari kasta brahmana bersekutu dengan shanti prasa dari kasta dalit dan mengatakan bahwa dua kasta bisa bersatu dan bekerjasama. Tewasnya dua gadis itu dijadikan senjata politik Mahanji untuk mencapai tujuannya. Tapi disisi lain, itu semua hanya topeng saja, karena dibelakang layar, Mahanji membawa peralatan makannya sendiri sewaktu dia makan  bersama Shanti Prasad dari kasta Dalit. Shanti Prasad sebagai politikus menggunakan kasta Dalit untuk mengangkat dirinya sendiri.

Sejak awal kita sudah disuguhkan dengan betapa perbedaaan kasta yang begitu besar terjadi saat Ayan mulai memasuki desa itu. Saat dia mau membeli air mineral itu, para polisi berusaha melewati toko yang menjual air mineral hanya karena yang menjual adalah seorang kasta Dalit dan mereka tidak diijinkan untuk membeli minuman di toko itu. Kemudian ada adegan bagaimana penduduk dari kasta Dalit tidak diijinkan masuk ke dalam kuil atau mereka akan dipukuli  (dan memang dipukuli sih). Selain itu juga ditunjukkan bahwa mereka juga tidak diijinkan makan makanan dari piring yang berasal dari kasta Dalit.Ayan disediakan piring baru saat mencoba makan dari piring bawahannya.

Begitu abainya polisi dalam menangani kasus ini terlihat bagaimana polisi sendiri tidak mengetahui wajah dari gadis yang hilang dan mereka juga tidak meminta fotonya dari keluarga sang gadis. Sejak awal, Brahmadatt berusaha untuk menutup-nutupi kasus ini agar tidak semakin membesar karena dia sendiri ternyata terlibat dalam pembunuhan terhadap para gadis itu.

Film ini karena membawa pesan social yang sangat besar maka saaat penayangannya, sejumlah negara bagian di india melarang penayangan film ini. Tapi memang film yang disutradari oleh Anubhav Sinha menyasar pada generasi muda yang mungkin tidak menyadari tentang perbedaan kasta ini yang sangat kental di India. Ayushman Khurana mampu memainkan Ayan dengan baik. Sebagai pria berpendidikan tinggi namun menghadapi banteng social yang sangat ketat.

Melihat film ini jangan membayangkan adegan polisi India melawan gangster atau ala ala polisi Thakur. Tidak ada semua itu. Termasuk di sini tidak ada adegan nyanyi dan menari yang menurut saya juga tidak penting untuk tema seperti ini. Akhir kata, selamat menikmati dan selamat menonton.

No comments:

Post a Comment