Labels

Tuesday, March 17, 2015

Geger Pacinan, Perang Jawa abad 18



Judul buku                        : Geger Pacinan 1740-1743
Pengarang                        : Darajadjadi
Penerbit                           : PT. Kompas Media Pratama Jakarta
Tahun terbit                      : 2013
Jumlah halaman                 : 293 halaman
Buku ini sebenarnya sudah selesai dibaca sebulan yang lalu, tapi baru sempat untuk dibuat sinopsisnya pada bulan Maret ini. Membac a buku ini juga karena saya harus menjelaskan pemberontakan Tionghoa dalam materi Sejarah Indonesia kelas 11 kurikulum 2013.

Buku ini menjelaskan latar belakang pemberontakan Tionghoa di Batavia, yang kemudian meluas di Jawa, bagaimana para bupati mendukung pemberontakan ini, pura-pura  mendukung Batavia namun kenyataannya juga mendukung pemberontakan ini. Bagaimana Paku Buwono II yang semula mendukung pemberontakan ini berbalik mendukung VOC karena kuatir dengan posisisnya sebagai raja akan digantikan oleh para pangeran lain.


Buku ini terbagi menjadi 10 bab, bab pertama menjelaskan tentang posisi Sunan Kuning alias Raden Mas Garendi yang diangkat menjadi raja dari kaum pemberontak ini, apa yang menjadi latar belakang diangkatnya Raden Mas Garendi sebagai pemimpin pemberontakan dan raja tandingan dari Paku Buwono(PB) II. Rden Mas Garendi merupakan keturunan pangeran Teposono, anak Amangkurat III yang terbunuh dalam konflik internal keraton kerajaan dan dididik dalam keluarga Tionghoa. Sunan Kuning atau Amangkurat V dibantu oleh Patih Mangunoneng yang ditawarkan oleh Patih Notokusumo. Amangkurat V juga bekerja sama dengan pemimpin Tionghoa yaitu Ki sepanjang, yang diduga pelarian dari Tiongkok dalam memimpin pemberontakan di sana.

Bab II menjelaskan situasi Batavia tahun 1740, bagaimana awal mula pemberontakan ini berlangsung. Saat itu industri gula berkembang pesat dan Batavia membutuhkan banyak tenaga kerja, maka didatangkan penduduk dari Tiongkok untuk menjadi pekerja di sana.posisi bangsa Jawa tidak begitu dipercayai oleh Batavia. Namun perkembangan penduduk yang sangat pesat menimbulkan kekuatiran, ditambah lagi jatuhnya harga gula, mengakibatkan tingkat kriminalitas semakin tinggi yang kebetulan banyak dilakukan oleh kaum Tionghoa yang pengangguran. VOC melakkan razia terhadap penduduk Tionghoa yang menibulkan perlawanan dari masyarakat Tionghoa, ditambah dengan adanya kebakaran di Batavia semakin meningkatkan tensi dari pertentangan sehingga puncaknya terjadi pembantaian 10000 penduduk Tionghoa di Batavia. 

Bab III menjelaskan komunitas Tionghoa abad 18,  yang disebut babah dan Tionghoa totok. Bagaimana sejarah kedatangan bangsa Tionghoa ke Indonesia, mulai dari zaman penyerbuan Tentara Mongol ke Singasari, dilanjutkan ke perjalanan Laksamana Ceng ho hingga abad 18 dan bagaimana perkembangan mereka di Indonesia, bagaimana terjadi pengaruh kebudayaan di Indonesia, sekedar kata nyonya, penggunaan mata uang yang mengadopsi mata uang di Tiongkok, penggunaan kebaya bercorak Tiongkok daln lain sebagainya. Peduduk Tionghoa juga ada yang menjadi bupati seperti Puspanegara, Bupati Batang dan Astrawijaya Bupati Semarang dan Cik Go Ing alias Martoguno menjadi Bupati Lasem.  Kemudian hubungan antara Jawa, Tionghoa dan Belanda, bagamana dua kelompok ini jmemiliki rasa persaingan dengan Belanda. Posisi orang Tionghoa yang juga sangat penting di Mataram terkait dengan ketrampilannya sehingga dalam hukum tradisional Jawa,, bahwa mereka yang membunuh orang Tionghoa, akan didenda dua kali lipat daparipada kalau membunuh orang Jawa (hal 61)

Bab IV menjelaskan kKompeni pedagang berpedang. Sejarah kedatangan Kompeni belanda ke Nusantara yang awalnya hanya berdagang namun berubah menjadi penguasa. Bagaimana munculnya gubernur jenderal dan raad Van Indie, bagaimana terjadinya konflik antara VOC dengan Sultan Agung, serta mulai adanya hubungan manis antara VOC dengan Mataram yang dimulai Amangkurat I dengan sebuah perdamaian .misalnya isi perjanjiannya tahun 1677 VOC akan membantu raja melawan musuh musuhnya dengan syarat raja harus membayar semua biaya yang dikeluarkan  dan juga Raja harus memberikan konsensi ekonomi kepada  Kompeni (hal 88). Akibat hubungan yang baik ini maka terjadi perang Trunojoyo yang mampu menguasai plered sebagai pusat Maaram dan memaksa Amangkurat 1 melarikan diri ke tegalwangi dan meninggal di sana.  Posisi penting penguasa local bagi VOC demi keuntungan eknomi mereka, namun di akhiri dengan keruntuhan dari VOC akibat korupsi yang sangat tinggi dan kelesuan ekonomi. Juga dijelaskan kenapa orang Tionghoa memiliki posisi penting di mata voc, dimana VOC menganggap imigran Tionghoa orang yang rajin, tidak suka keributan, terkadang licik namun serba bisa dan berwatak pemalu (hal 99).

Bab V menjelaskan pasang surut Kerajaan Mataram,. Mulai dari sejarah munculnya Mataram, dilanjutkan ke Sultan Agung hingga mulai campur tangan VOC di Mataram pad amasa amangkurat I. Hal ini diikuti dengan terjadi perebutan tahta di Keraton, mulai dari konflik Amangkurat III dengan Pangeran Puger, dan VOC mendukung pangeran puger yang merupakan mertua dari amangkurat III, Pangeran Puger yang bergelar Paku Buwono I naik tahta juga bukan cuma cuma, tapi harus memberikan imbalan bagi  VOC , dimana imbalan yang berisi 10 isi itu sangat merugikan Mataram (hal 125), mulai dari monopoli candu dan teksitik, menyerahkan beras gratis setiap tahun 800 koyan serta larangan prang Jawa berlayar lebih jauh dari Lombok, Mataram atau Lampung. Perebutan kekuasaan kedua terjadi pada masa amangkurat IV  dengan saudaranya yaitu Pangeran Purbaya dan Pangeran Blitar yang didukung oleh anak Amangkurat IV sendiri yaitu Pangeran Arya Mangkunegara dan Raden Lindu. Hal ini yang kelak menyebabkan pangeran Arya Mangkunegara walau anak sulung tapi tidak menjadi raja penerus.  Alasan dipindahkannya keraton dari Kartasura ke Surakarta karena PB II merasa banyak pertumpahan darah yang terus menerus terjadi pertanda Kartasura merupakan tanah yang sangar dan tidak memberikan berkah (hal 129). Pada masa PB II juga muncul Patih Danurejo yang sangat berambisi akan kekuasaan, bagaimana intriknya untuk menyingkirkan Pangeran Arya Mangkunegara untuk dibuang ke Afrika Selatan namun pada akhirnya beliau tersingkir dan dibuang ke Afrika Selatan juga . Isi bab ini diakhiri dengan beban utang Mataram yang cukup tinggi , yang awalnya bisa dibayar lancar tapi pada masa dimana VOC melakukan revaluasi nilai mata uang yang membuat beban menjadi sangat tinggi sehingga tagihan menjadi membengkak .

Bab VI menjelaskan Jawa Tengah tahun 1741, bagiamana hubungan Tionghoa dengan orang Jawa yang berbaur dengan baik, bagaimana raja kaget mendengar pemberontakan Tionghoa di Batavia dan dukungan patih notokusumo terhadap pemberontakan Tionghoa. 

Bab VII menjelaskan aliansi Mataram dan Tionghoa  dalam emnghadapi VOC. Bagaimana benteng VOC di Kartasura itu jatuh. Sementara disaat yang sama, Bupati Madura, yaitu Cakraningkat juga membantu VOC karena kebenciannya terhadap PB II, walau dia adalah adik ipar PB II, karena awalnya akan dijanjikan Pasuruan sewaktu menikahi adik PB II, tapi tidak diberikan. Dan pedomannya adalah musuh dari musuh adalah teman.  Juga muncul sosok Bupati Martopuro dari Grobogan yang loyal terhadap notokusumo. 

Bab VIII menjelaskan pecahnya persekutuan PB II dengan Laskar Tionghoa. Akibat kekalahan yang dialami terus menerus oleh lascar Tionghoa, membuat PB II kuatir dengan posisinya dan berusaha berdamai kembali dengan VOC. 

Bab IX menjelaskan runtuhnya Kartasura. Sunan kuning atau amangkurat V menyerbu Kartasura yang menyebabkan PB II melarikan diri keluar dari Kartasura ke Ponorogo. Amangkurat V memerintah Kartasura hanya singkat, satu tahun, dan dibantu Patih Mangunoneng untuk mengendalikan kerajaan, dimana banyak pihak yang meragukan kemampuan Mangunoneng karena karakter Mangunoneng yang tidak baik, seperti asyik judi dan minum arak. PB II karena berkuasa di Ponorogo dan disebut sebagai Sunan Ponorogo akibat pengalaman spiritual akhirnya menyerahkan tahtanya kepada PB III dan PB II beralih nama menjadi panembahan brawijaya. Sementara itu , pasukan Cakraningrat, pasukan PB II, dan pasukan VOC juga sedang bergerak untuk menyerang Kartasura. Hal yang membuat Amangkurat V kuatir dan berusaha melakukan perdamaian dengan VOC.

BAB X  menjelakan akhir dari kerajaan Mataram. Bagaimana pasukan cakraningkat bergerak menuju ke Kartasura dan mampu mengusir pasukan sunan kuning dari keraton Kartasura. Dan karena kekalahan yang bertubi tubi dari pasukan VOC akhirnya Sunan Kuning menyerahkan diri tahun 1743 di Surabaya. Kemudian dibawa ke Batavia dan dibuang ke Srilanka. VOC juga kebingungan untuk menentukan sikap. Bagaimana Verijsel mendesak Van Imhoff menentukan satu diantara dua pilihan, mengganti PB II dengan orang lain atau memberikan pengampunan kepada PB II. Walau banyak pangeran yang ingin menjadi Raja Mataram namun tidak ada yang memenuhi kriteria Kompeni, maka diberikanlah pengampunan, namun untuk memberikan efek jera bagi rakyat Jawa dan tidak ingin kehilangan muka akibat sekedar memberikan pengampunan kepada PB II, maka Kompeni memberikan hukuman kepada tiga tokoh yang dianggap berpengaruh terhadap keputusan PB II saat itu, yaitu Notokusumo, Rajaniti yang menjadi pemimpin operasi dan ulama keraton Sayid Aluwi, yang mengorbankan semangat islam untuk melakukan penghinaan terhadap garnisun Kompeni di Kartasura (hal 271). Akibat kekalahan Tionghoa membawa efek yang besar terhadap Mataram, Karen VOC memberikan rancangan perjanjian baru untuk PB II, yaitu misalnya para bupati di daerah pesisir walau diserahkan ke Kartasura tapi diangkat dan ditunjuk oleh Kompeni serta tidak memiliki kewajiban hadir dalam pisowanan yang diselenggarakan oleh keraton. Ditambah lagi pengangkatan patih dan bupati utama di lingkungan keraton hanya dapat dilakukan seizing Kompeni.perjanjian ini juga menjadi penanda awal runtuhnya kerajaan Mataram.

Epilognya adalah Raden Mas Said yang sebelumnya membantu pemberontakan Sunan Kuning tetap melanjutkan pemberontakan dan akhirnya melakukan perjanjian denganPB III disaksikan oleh Kompeni di Salatiga tahub 1757  yang pada intinya Raden Mas said diberikan wilayah dengan gelar KGPAA mangkunegara I dengan pusat di Surakarta dengan istananya dikenal Puro mangkunegaran.sementara Pangeran Mangkubumi yangsebelumnya mendukung PB II kecewa melihat Pb II membayar begitu banyak untuk VOC namun janji PB II untuk memberikan tanah Sukowati (sekarang Sragen) apabila dapat menumpas Martopuro dan pengikutnya tidak dilaksanakan, sehingga terus melakukan pemberontan. Pangeran mangkubumi akhirnya melakukan perjanjian dengan PB III disaksikan oleh Kompeni di Giyanti Karanganyar tahun 1755 yang intinya Pangeran Mangkubumi diberi hak untuk memerintah Mataram barat dengan pusat Ngayogyakarto dan bergelar Hamengkbuwono I. Sementara Bupati Cakraningrat  yang merasa dihianati VOC akhirnya berbalik menyerang VOC namun akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Afrika Selatan sampai akhir hayatnya. 

Membaca buku ini , otomati s tidak hanya membaca sejarah Geger Perang Pacinan yang bisa dibilang perang Jawa versi pertama abad 18 sebelum adanya Perang Diponegoro yang juga disebut perang Jawa pada abad 19 . mungkin karena penamaan Tionghoa sehingga sejarah berusaha dikaburkan. Mungkin lho ya. Begitu juga saya melihat bagaiaman pengalaman spritiual bisa memengaruhi seseorang untuk turun tahta atau naik tahta. Atau sewaktu Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said saat memasuki keraton Kartasura yang berhasil membawa masing masing satu buah pusaka. Pangeran mangkubumi mengamankan Tombak Kyai Plered dari laskar Tionghoa, sementara Raden Mas Said mengambil pusaka Kyai Beludak (hal 225)Dimana dalam keyakinan bangsa Jawa, siapapun yang memiliki pusaka keraton juga memiliki hak untuk menjadi raja walau bukan keturunan raja yang sedang berkuasa. Di akhir kisah, Mangkubumi mampu menjadi raja di Yogyakarta sementara Raden Mas Said menjadi raja Mangkunegara. Pengalaman spiritual yang tidak akan bisa dinalar oleh pemikiran Kompeni, termasuk rencana awal pemindahan keraton Kartasura yang dilatarbelakangi pengalaman mistis. 

Bahasa dalam buku ini mudah dicerna sehingga kita tidak akan mengernyitkan dahi kala membaca buku ini. Dan membaca buku ini otomatis kita juga akan memelajari sejarah singkat kedatangan bangsa Tionghoa ke Indonesia, bagaimana pengaruh mereka dalam budaya Indonesia, serta sejarah kedatangan bangsa Belanda ke Indonesia dan juga sejarah kelahiran Mataram. Akhir kata, buku ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca oleh teman teman semua yang tetarik mempelajari sejarah Mataram dan awal kejatuhannya. terimakasih

No comments:

Post a Comment