Labels

Wednesday, July 28, 2021

The Greatest Showman : Kisah Nyata Perjalanan Hidup Barnum, Pendiri Sirkus di Amerika

sinopsisfilmindia.com

Phineas Taylor Barnum atau yang disebut juga dengan P.T. Barnum, siapa dia? Itu yang ada dalam pikiran saya kala memutuskan untuk menonton film musical yang berjudul The Greatest Showman. Bagi saya, sangat penting untuk melihat kisah film itu, apakah fiksi atau real. Berhubung saya menyukai film-film yang berdasar kisah nyata, maka begitu membaca sekilas sosok Barnum, maka saya putuskan untuk menonton film ini. Sebelum film ini dibuat dan disutradari oleh Michael Gracey, sudah ada beberapa film lain yang mengisahkan perjalanan hidup dari Barnum, misalnya The Mighty Barnum (1934) dan juga serial TV berjudul Barnum yang dibuat di tahun 1986.

Kisah diawali dengan Barnum muda yang merupakan anak seorang penjahit dan bekerja pada seorang kaya Bernama Hallets. Barnum sejak muda sudah menyukai anak Hallets yang Bernama Charity, namun untuk sementara waktu mereka terpisah karena Charity harus sekolah. Setelah dewasa, Barnum menikahi Charity dan hidup sederhana dengan dikaruniai dua putri yaitu Caroline dan Hellen dan bekerja sebagai seorang akuntan di sebuah perusahaan. Masalah mulai muncul kala perusahaannya mengalami kebangkrutan karena kapal-kapal mereka tenggelam di Laut Tiongkok Selatan sehingga Barnum dipecat dari kantornya

Dengan sedikit berkas dari kantor yang dibawahnya , Barnum berhasil meminjam uang di bank untuk membeli sebuah museum . Namun pertunjukkannya tidak menarik sehingga tidak laku. Ide muncul dari dua putrinya agar dia menunjukkan show yang lebih nyata dan lebih aneh. Akhirnya Barnum mengumpulkan berbagai orang-orang aneh untuk menjadi bagian dari pertunjukkannya. Mulai dari pria gendut, pria yang sangat tinggi, orang cebol, Wanita berjenggot dan Wanita yang seluruhnya berbulu dan banyak lagi orang-orang aneh yang menjadi bagian dari pertunjukkannya. Dengan segera Pertunjukkannya menjadi ramai dan mendatangkan banyak uang. Barnum bisa memberikan kehidupan yang layak kepada keluarganya dan tidak merasa minder dengan mertuanya yang merupakan keluarga kaya.

Pada suatu pesta, barnum bertemu dengan pria dari keluarga kaya yang Bernama Philip Charlyle. Mereka akhirnya membuat kesepakatan untuk menjadi rekan dan membuat P.T. Barnum Circus menjadi semakin terkenal. Charlyle juga mampu membawa tim sirkus Barnum ke Inggris atas undangan ratu Inggris. Pada saat pesta karena undangan Ratu Inggris tersebut, Barnum bertemu dengan penyanyi yang sangat kondang di Eropa Bernama Jenny Lind. Barnum melihat peluang bisnis dari Jenny yang memiliki suara merdu dan cantik. Akhirnya Jenny di bawa ke Amerika untuk mengadakan konser di Amerika. Konser yang dilakukan sangat sukses sehingga dilakukan tur Amerika Bersama Barnum.

Hanya saja, selama konser tersebut, Jenny mulai menyukai barnum. Barnum menolak merayakan kesuksesan Bersama Lind memutuskan pulang. Kepulangan Barnum diikuti dengan berbagai bencana yang bertubi-tubi. Tempat sirkusnya terbakar karena ulah preman setempat yang tidak suka dengan keberadaan Barnum dan orang-orang aneh tersebut. Kemudian diikuti dengan perginya anak-istrinya ke rumah mertuanya karena rumah mereka disita oleh bank karena mengetahui penipuan yang dilakukan oleh Barnum. Belum cukup, foto Lind dan dirinya yang berciuman sebelum konser terakhirnya terpublish oleh media cetak New York yang membuat Namanya semakin hancur.

Apa yang harus dilakukan oleh Barnum untuk mengangkat dirinya lagi? Itulah yang harus kalian tonton sampai selesai. Tapi aku suka film ini. Menurut saya, Hugh Jackman mampu memerankan tokoh Barnum dengan baik. Apalagi Hugh Jackman pernah bermain di film musical sebelumnya yaitu Les Miserables. Selain Huch Jackman, acting para pemain lain seperti Michelle Williams sebagai Charity, Charlyle yang diperankan oleh Zac Efron serta Zendaya cukup sukses disini. Zac Efron sudah terbiasa di film musical juga karena sebelumnya bermain di high school musical. Sementara itu Zendaya memang seorang penyanyi jadi ya ok-ok saja bermain di film ini.

Cuma saya kurang tahu, entah mengapa lagu-lagu yang dinyanyikan seperti berjarak bagi saya. Duh, bingung ngomongnya tapi nuansa lagu-lagunya itu tidak seperti harapan saya sih, bukan berarti lagu-lagu yang mengiringi jelek lho ya. Saya hanya suka lagu this is me saja. Feelnya dapat banget sih kalau menurutku.Dan setelah saya browsing-browsing , lagu ini juga memenangkan piala Golden Globe di tahun 2017 sebagai lagu original terbaik. Bagaimana mereka tidak malu dengan diri mereka yang dianggap aneh dan bersuara pada dunia bahwa inilah mereka. Kostumnya juga pas menunjukkan suasana Amerika di era akhir tahun 1800an.

Film ini hampir tidak menunjukkan kegetiran hidup. Apa ya, sejak awal film ini membawa pesan positif dan optimis. Padahal bayangan awal saya, film ini akan membawa nuansa dark terlebih dahulu sebelum akhirnya menjadi happy ending. Ternyata tidak sama sekali. Barnum muda yang semangat dalam menjalani hidup dan mengirimkan surat kepada Charity. Charity yang hanya tersenyum saat membaca surat dari Barnum. Sikap kedua anak Barnum kala memangun musium dari nol, begitu juga Charity. Semua membawa nuansa optimis dalam menjalani kehidupan. Bukankah kita memang membutuhkan keceriaan, apalagi selama pandemic seperti ini, kalau terus dicekam ketakutan, yang ada justru semakin melemahkan kekebalan tubuh kita (loh, kok malah larinya kesitu? Hehehe)

Orang-orang aneh yang dikumpulkan oleh Barnum ini juga digambarkan membawa kesan positif. Ada beberapa adegan yang menunjukkan kekecewaan mereka terhadap barnum yang sepertinya mengeksploitasi mereka, atau bahkan malu kepada mereka kala mereka tidak bisa masuk ke suatu pesta yang hanya dihadiri orang-orang kalangan kelas atas. Namun, disisi lain, saya juga melihat bagaimana mereka menjadi bersemangat dalam menjalani hidup. Di bagian akhir , mereka menyebutkan bagaimana mereka bisa memiliki keluarga yang tidak menganggap diri mereka aneh, mereka adalah orang yang normal pada umumnya. 

Pada titik ini saya merasa terharu. Saya pernah baca artikel, di abad 18 dan 19, kalau seseorang terlahir cacat, maka pilihan mereka hanya ada dua, melanjutkan hidup dengan penuh cemoohan dan dikucilkan dari masyarakat atau bergabung dalam suatu sirkus yang tengah digandrungi masyarakat pada saat itu. Dan umumnya orang-orangyang terlahir cacat ini akan lebih memilih untuk bergabung dengan sirkus , setidaknya mereka mendapatkan uang dan mendapatkan teman-teman yang bernasib serupa. Bagi saya, hidup dalam komunitas yang serupa itu lebih aman karena kita bisa diterima daripada tidak.

Lagu This Is Me menjadi puncak bagaimana para orang aneh ini ingin dianggap sama seperti orang lain, bahwa mereka bukan sesuatu yang mengerikan dan menjijikkan, tapi mereka itu sama dengan yang lain. Nuansa lagu This Is Me ini bener bener membuat saya bersemangat kala menyanyikannya sih, hahahaha.

Saya juga belajar bahwa terlalu rakus akan uang justru akan menghancurkan diri sendiri. Barnum yang hanya melihat potensi bisnis dari Lind, akhirnya justru membuat Lind jatuh cinta. Langkah apapun yang Barnum pilih akan membawa konsekuensi buruk dalam kehidupan pribadinya. Dia tidak memperhitungkan faktor X kala melihat potensi bisnis dari sosok Lind. Mungkin itu yang perlu menjadi perhatian bagi kita semua. Walau akhirnya Barnum memilih keluarganya dibanding Lind, tapi membawa konsekuensi Namanya yang tercoreng di publik.

Sang penulis naskah  yaitu Bill Condon ternyata adalah orang yang sudah menghasilkan film-film musical yang berkualitas. Sebut saja film Chichago (2002), dreamgirls (2006) serta Beauty and The Beast (2017). Dengan pengalaman seperti itu, wajar saja jika film musical ini cukup baik untuk dinikmati.  

 

No comments:

Post a Comment