Labels

Wednesday, July 21, 2021

Super 30: Impian Remaja India masuk Universitas Ternama di India


 Mimpi. Bolehkah kita bermimpi? Atau haruskah kita menerima kenyataan di depan kita, hanya karena kita dilahirkan dari keluarga miskin, maka otomatis kita juga akan menjadi orang miskin. Hanya karena ayah kita seorang tukang bangunan, haruskah kita menerima kenyataan hanya akan mengikuti jejaknya menjadi kuli bangunan juga? Atau bolehkah kita memimpikan sesuatu yang jauh lebih tinggi dari itu? Saya jadi teringat orang bijak mengatakan, bukan salah kita kalau kita dilahirkan dari keluarga miskin. Tapi salahkan diri kit ajika kita mati sebagai orang miskin. Suatu hal yang mendorong kita untuk bisa melepaskan diri dari nasib yang mengikat orangtua kita. Dan itulah yang yang menjadi tema sentral di film ini.

Super 30. Hmmm kala saya membaca judul film ini, saya langsung berpikir kalau ini film tentang superhero. Tapi ternyata setelah baca reviewnya, ternyata saya salah, film ini tenang kisah nyata seorang guru matematika di India yang Bernama Anand Kumar yang sangat menginspirasi. Seorang guru yang berusaha untuk membantu anak-anak dari keluarga miskin untuk bisa masuk ke kampus-kampus ternama di India.Walau untuk mewujudkan cita-citanya ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Otomatis saya langsung putuskan untuk menontonnya.

Anand merupakan seorang murid yang sangat berprestasi di sebuah desa kecil di Bihar dan sering memenangkan kompetisi matematika. Dia sangat haus akan ilmu pengetahuan sehingga sering pergi ke perpustakaan kota hanya untuk membaca jurnal matematika. Atas saran dari penjaga perpustakaan, Anand mengirim sebuah jawaban matematika dari jurnal Asing ke Cambridge. Tidak terduga dia berhasil memecahkan soal yang masih jadi teka teki itu. Hal ini mengakibatkan Anand akhirnya diundang untuk pergi ke Inggris melanjutkan studi disana.

Namun begitu banyak halangan yang membuatnya akhirnya menyadari bahwa itu semua hanya mimpi. Kegagalannya ke Inggris dan kematian ayahnya akhirnya membuatnya mengubur mimpinya dan menjadi seorang penjual papad (sejenis roti gitu) demi menghidupi keluarganya. Nasibnya mulai berubah kala dia bertemu dengan seorang pemilik usaha pendidikan (semacam tempat kursus) bernama Lallan Singh yang mengenali Anand dulu sangat berprestasi di bidang matematika sehingga dia menawari Anand untuk menjadi pengajar di usaha les-lesannya yang Bernama Excellent Academy coaching (EAC) itu.

Nasibnya segera berubah dengan uang yang mulai mudah berubah. Namun perbincangannya dengan seorang penarik becak (semacam itulah) mampu mengubah cara berpikirnya. Anand mulai flashback dengan kehidupan masa lalunya sebelum menjadi seperti sekarang. Hal yang akhirnya membuat dia memutuskan untuk membuat meninggalkan usaha les-lesan itu dan membuka sendiri tempat Pendidikan untuk 30 anak yang berasal dari keluarga miskin namun memiliki cita-cita untuk bisa meneruskan ke kampus IIT.

Mundurnya Anand dari EAC itu membawa dampak bagi Lallan karena banyak orang tua yang ingin anaknya diajar oleh Anand. Mereka memasukkan anaknya ke EAC karena nama besar Anand. Jika Lallan tidak berhasil membawa Kembali Anand ke EAC , maka orangtua murid akan menarik Kembali seluruh uang yang sudah dibayarkan, itu artinya membawa kerugian besar bagi EAC dan Lallan Singh. Akhirnya Lallan singh melakukan berbagai cara untuk bisa menghancurkan Super 30 milik Anand Kumar.Apalagi di belakang Lallan Singh adalah seorang menteri yang berkuasa.

Melihat film ini membuat saya mempertanyakan diri saya sendiri sebagai pendidik. Apakah memang Pendidikan itu hanya untuk orang kaya. Di India, sepertinya doktrin bahwa hanya orang kaya yang akan tetap mendapatkan Pendidikan tinggi . Posisinya tidak akan mengalami perubahan. Hal ini kala perbincangan Anand dengan penarik becak, yang mempertanyakan, kenapa seorang anak bernama Radhe Mohan mati-matian belajar tekun sementara dia berasal dari keluarga miskin. Hidupnya tidak akan berubah. Sang penarik becak kemudian membawa kisah mahabarata bagaimana Ekalavya sangat hebat sebagai seorang pemanah and lebih baik dari pangeran Arjun. Akhirnya Dronacharya, guru mereka, meminta Ekalavya memotong ibu jarinya agar Arjun tetap menjadi pemanah terbaik.

Bayangkan, tentu kita tahu bahwa mahabarata sangat identik dengan kepercayaan di India. Dan kalau hal ini diajarkan dengan cara yang berbeda (saya tidak berani menafsirkan lebih jauh) maka anak-anak yang berasal dari keluarga miskin akan selalu terdoktrin bahwa mereka tidak akan pernah keluar dari kemiskinan. Karena mereka sejak awal hidup seperti itu. Saya tiba-tiba teringat dengan kaum Dalit di India yang merupakan kaum paling bawah dalam system masyarakat di India. Mereka hampir tidak ada yang memiliki pendidikan tinggi. Kalaupun ada yang memiliki Pendidikan tinggi, masyarakat tidak akan menghargai mereka karena latar belakang kasta mereka yang harusnya hidup dalam kemiskinan.

Kaum Dalit ini saya kaitkan dengan film ini tentu saja, karena kaum Dalit selalu mengerjakan pekerjaan pekerjaan kasar atau rendahan yang orang umumnya tidak mau. Sementara itu anak-anak yang direkrut oleh Anand merupakan anak-anak yang memang berasal dari keluarga miskin, hanya menjadi tukang dan buruh kasar. Anak-anak yang bisa dibilang tidak memiliki masa depan selain mengikuti pekerjaan orangtuanya sebagai buruh kasar. Anak-anak yang bahkan mereka sendiri kadang berpikir apakah mereka mampu melakukan hal itu nantinya.

Hal ini terlihat kala Lallan Singh datang ke rumah mereka (jadi rumah itu semacam rumah singgah dimana di dalamnya juga untuk tempat tinggal 30 siswa dan juga tempat mereka belajar) dan memberikan kata kata yang cenderung menghancurkan mental dan kepercayaan diri mereka bahwa mereka akan gagal untuk bisa lolos ke IIT dan harus menerima nasib mereka sebagai orang dari keluarga miskin. Anand harus berusaha keras memotivasi mereka bahwa mereka bisa keluar dari garis kemiskinan itu dan bisa masuk ke IIT, mereka tidak boleh takut dengan tekanan dan intimidasi dari Lallan Singh.

Kemudian saya suka di bagian dimana Anand meminta mereka untuk tampil di depan AOC pada saat perayaan Holi dengan hanya berbicara bahasa inggris sebagai suatu bentuk hukuman karena mereka kalah dalam kompetisi melawan siswa AOC. Awalnya sih mendapatkan penolakan dan mendapatkan ejekan, tapi ya, show must go on, dan akhirnya malah Kembali lagi pake bahasa hindi. Dari situ saya mendapatkan pelajaran bahwa ok lah kalau kita harus menguasai bahasa inggris. Apalagi ini konteksnya India dimana bahasa inggris sepertinya hal mutlak diperlukan dalam Pendidikan, tapi pada satu titik saya mendapatkan pelajaran bahwa pada akhirnya kau harus bangga dengan identitas bahasamu sendiri dan tidak harus memaksakan diri untuk 100% perfect dalam bahasa inggris.

Anand mampu mengajari materi dengan sangat baik, dimana pelajaran dipahami bukan sekadar di dalam kelas tapi bagaimana diterapkan atau ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Bukankah ini juga yang menjadi masalah di system Pendidikan kita? Banyak siswa dan orangyang bertanya, apa sih gunanya belajar ilmu ABCD kalau itu tidak relevan dengan apa yang kita temukan sehari-hari? Makanya, saya kalau mengajar materi sosial, selalu saya kaitkan dengan kehidupan sehari-hari yang mudah mereka temukan agar mereka bisa memahami materi dengan baik. Bukan menghubungkan suatu materi dengan hal-hal yang tidak mereka temukan di dunia nyata. Rasanya susah.

Hal yang bikin saya makjleb adalah saat sang Menteri mengatakan kepada Lallan bahwa dia menciptakan Lallan sebagai bagian dari mafia Pendidikan. Kalau orang bisa mendapatkan sesuatu yang berkualitas dan gratis, untuk apa harus membayar mahal? Saya berpikir dalam, bukankah ini juga terjadi dengan kita? Banyak orang tua yang berlomba-lomba memasukkan anaknya ke berbagai tempat kursus dengan harapan anaknya bisa masuk ke sekolah favorit, masuk PTN ternama, atau kalau zaman dulu supaya nilai Ujian Nasional mereka bisa sangat baik. Sesuatu yang sangat relevan dan mudah kita temui walau saya pribadi tidak akan berani mengatakan bahwa itu adalah mafia. Namun saya harus mengakui bahwa karena ada permintaan yang tinggi otomatis akan ada barang yang tersedia, yaitu guru guru les atau tempat les yang menawarkan apa yang diharapkan.

Namun, apa yang dikemukakan oleh sang Menteri tentu tidak sekadar itu saja, justru karena mereka melihat bahwa Pendidikan itu sebagai bagian dari suatu mafia yang harus dikomersialkan, maka hal-hal lain yang menjdi pesaing atau yang mengancam  harus disingkirkan, termasuk diantaranya adalah Anand Kumar. Mungkin awalnya hanya memfitnah dirinya atau memutus jaringan listrik di rumahnya, tapi tindakan paling ekstrim adalah usaha untuk menyingkirkan nyawanya. Saya mengira kalau itu adalah sesuatu yang dilebih-lebihkan. Namun, kala membaca bagian akhir film bahwa memang ada usaha-usaha untuk mencelakai dirinya termasuk tahun lalu (saat film dirilis itu 2019, artinya tahun 2018) maka otomatis saya mulai percaya bahwa itu memang nyata.

Impian itu bagus, namun harus ada dalam lingkungan yang memadai. Maksud saya, kalau kita memiliki impian tinggi namun tidak dalam lingkungan yang tepat, impian itu hanyalah menjadi impian. Namun kalau impian itu didukung oleh orang-orang sekitar dan ada semacam mentor untuk membantu mewujudkan impian kita, maka peluang impian itu terwujud menjadi sangat besar. Sama seperti anak-anak miskin yang saat mereka pergi ke rumah Anand, mereka mendapat dukungan orang tua walau lingkungannya mencemooh. Kala Lalla mengejek dan merendahkan mereka sehingga mereka mulai putus harapan, disitu ada Anand sebagai mentor yang mampu memotivasi dan membangkitkan Kembali semangat mereka, menuntun mereka dengan tepat sehingga mereka ada di jalur yang benar menuju keberhasilan.Hal yang harus kita lakukan juga dalam kehidupan kita.

Saya sendiri masih bertanya dengan sistem les-lesan di India, apakah ada kesempatan bagi lulusan SMA untuk bisa menjadi pengajar di tempa kursus walau waktu SMA mereka mungkin sangat handal di bidang yang dikuasai. Kalau itu sifatnya les privat mungkin saya percaya karena banyak juga teman yang dulu waktu masih SMA sudah ngelesi anak -anak dibawahnya. Tapi kalau itu berupa suatu Lembaga Pendidikan apakah memungkinkan? Kalau di Indonesia kan misal ingin mengajar tempat kursus semacam Ganashe Operation atau primamaga (Namanya diubah dikit ya hehehehe) itu kan pasti harus memiliki ijazah S1 soalnya.

Namun dengan prestasinya , Super 30 pernah ditetapkan sebagai sekolah terbaik di Asia versi Time magazine tahun 2010.Selain  itu Super 30 juga pernah ditetapkan sebagai salah satu dari 4 sekolah paling inovatif di dunia oleh Newsweek. Hal ini tentu saja membuktikan bahwa kisah super 30 memang sangat menginspirasi. Kalian akan menikmati setiap adegan yang dibuat dalam film yang disutradari oleh Vikas Bahl ini dan akan mendapatkan semangat di dalamnya, terutama bagi kalian yang bercita-cita ingin masuk di sekolah sekolah elit.

 

No comments:

Post a Comment