Labels

Wednesday, August 4, 2021

No One's Perfect : Kisah Hidup Ototake Hirotada

 


Kalau anda terlahir cacat tidak punya tangan dan kaki, apa yang ada dalam pikiran anda? Kalau anda melahirkan seorang bayi yang tidak memiliki tangan dan kaki, apa yang ada dalam pikiran anda? Itulah yang akan kita pelajari dari kisah hidup Hirotada Otokake dalam bukunya yang  berjudul No One’s Perfect yang. Sebenarnya buku ini sudah pernah saya baca dulu sekali, tapi entah kenapa melihat buku ini di rak buku sewaktu pulangkampung, tiba-tiba ingin kembali membaca buku ini (plus memang sudah mulai lupa isinya seperti apa, hehehehe).Akhirnya, saya ambil buku itu dan mulai saya simpan untuk saya baca nanti.

Otokake adalah seorang pria Jepang yang mampu menunjukkan dirinya sebagai pribadi yang tidak perlu dikasihani walau dia terlahir dengan sindrom Tetra melia, yaitu sindrom yang membuat dirinya hampir tidak memiliki tangan dan kaki (sebenarnya ada sih tangan dan kaki namun dengan ukuran yang sangat kecil. Sejak kecil, orang tuanya sudah berjuang sedemikian rupa agar dirinya tidak merasa berbeda dengan anak-anak lain. Orangtuanya memperlakukan dirinya seperti anak-anak lain. Bahkan Ototake melakukan aktivitas-aktivitas seperti yang dilakukan oleh anak-anak lain.

Buku ini mengisahkan proses kehidupannya dari lahir hingga dia masuk ke bangku kuliah di Universitas Waseda. Sejak TK, karena sifat keras kepalanya, Ototake menjadi seperti seorang raja di sekelilingnya. Anak-anak yang lain selalu bertanya dengan kondisi fisiknya yang berbeda dengan dirinya dan dia selalu menjawab hal yang sama. Namun kelemahannya itu justru mampu dia gunakan untuk bertindak dan seakan-akan menjadi seorang raja. Ototake selalu dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki pemikiran positif yang selalu mendukung dirinya.

Masalah mulai muncul kala sudah memasuki usia SD. Banyak sekolah umum yang menolak dirinya karena kondisi fisiknya. Diterimanya dia di sekolah Yohga membuat keluarganya mengambil keputusan untuk pindah tempat tinggal agar lebih dekat dengan SD Yohga. Di sekolah tersebut, dia dipegang oleh Sensei Takagi yang mengajar dia dari kelas 1 hingga kelas 4. Sensei Takagi mengajari dirinya agar dia mampu melakukan tugasnya dengan baik dan tidak mengharap belas kasihan dari orang-orang disekitarnya. Sensei selalu melibatkan dirinya dalam berbagai aktivitas , termasuk olahraga atau aktivitas kemping.

Nah, acara kemping ini termasuk seru, karena dengan perjalanan naik gunung yang lumayan berat. Sensei mampu membuat tidak ada perbedaan antara Oto-chan dengan anak-anak lain. Anak-anak yang lain merasa tidak adil kalau hanya oto-Chan yang diijinkan untuk tidak ikut sementara anak anak lain harus ikut naik gunung. Pada bagian ini, saya sangat salut bagaimana usaha guru -guru dan termasuk teman-teman Oto chan yang mendukung penuh Oto Chan untuk sampai naik ke puncak (padahal oto Chan menggunakan kursi roda lho). Di kelas 5 dan 6 Oto-chan juga dipegang oleh sensei Oka, yang walaupun memiliki metode yang berbeda dengan sensei Takagi, namun memiliki tujuan yang sama. Tujuan agar Oto-chan  memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan tidak minder dengan apa yang terjadi pada kondisi fisiknya.

Di Tingkat SMP, Oto dengan cukup percaya diri bergabung dengan klub basket. Dengan pelatih yang tidak menyepelekan dirinya, dia ikut Latihan di klub basket. Selama ikut basket pun, tidak ada Tindakan diskriminasi dari teman-temannya kepadanya. Lebih jauh lagi, Oto kemudian terlibat dalam anggota osis. Bahkan  Oto mengincar dan mampu menjadi ketua Osis. Bayangkan, seorang yang cacat tidak memiliki tangan dan kaki, mampu menjadi seorang ketua OSIS. Bagi saya pribadi, itu benar-benar sesuatu yang wow. Menunjukkan kualitas yang ada pada diri Oto.Hal yang harusnya kita tiru bukan?

Di tingkat SMA, Oto malah bergabung dengan tim Futbol di sekolahnya. Walaupun dengan cacat fisiknya, Oto akhirnya menjadi semacam manajer yang bertugas untuk melakukan analisis permainan lawan yang akan melawan tim sekolah mereka. Tentu hal seperti ini dibutuhkan kemampuan berpikir yang sangat kuat dari Oto. Oto mampu berfokus pada tim Futbol, apalagi saat mereka berjuang untuk bisa lolos dalam kejuaran Kanto dimana hanya 4 tim saja yang bisa lolos ke Kejuaraan tersebut.

Mendekati kelulusan, Oto mengikuti sekolah pra kuliah untuk persiapan memasuki bangku kuliah. AKu tidak tahu bagaimana sekolah seperti ini kalau d Indonesia. Apakah semacam Bimbel gitu ya? Tapi yang jelas, Oto mengalami kesulitan mencari sekolah pra kuliah karena , yah lagi-lagi berkaitan dengan kondisi fisiknya. Hingga akhirnya dia menemukan sekolah pra kuliah Sundai yang mau untuk memberikan pelajaran baginya. Dengan usaha yang keras (karena nilai-nilai sebelumnya yang rendah) dia akhirnya mampu menembus Universitas Waseda di Fakultas Sosial dan  Politik.

Saya salut dengan orang tua Otochan. Saat ayahnya berusaha memberitahu ibunya bahwa Oto terlahir dengan hal yang berbeda, dia berpikir bahwa istrinya akan pingsan saat melihat kondisi fisik bayinya. Tapi ternyata ibunya sejak awal sudah menyiapkan mental dan tidak pingsan, bahkan mampu menerima Oto dengan lapang dada. Saat pertama kali melihat bayinya, dia malah berkata kalau bayinya sangat tampan. Disini sejak awal, aku melihat ibunya sudah sangat tegar dan sudah berpikir positif untuk membesarkan anaknya (apalagi anaknya kelak hanya satu-satunya lho). Sering saya membaca kisah orang tua yang memiliki anak autis, awal-awalnya mereka selalu menyangkal bahwa itu terjadi pada anak mereka. Butuh waktu yang lama sampai akhirnya bisa menerima bahwa anak-anak mereka cacat. Hal yang tidak saya temukan pada ibu Otochan.

Orang tua Oto mendidik dengan cara yang seperti anak pada umumnya. Mereka tidak membuat semacam pembedaan. Hal ini terlihat saat Oto ijin untuk bertamasya Bersama temannya pada saat kelas 7. Alih-alih orangtuanya melarang atau malah minta ikut. Jusru hal ini dimanfaatkan oleh orangtua Oto untuk pergi bertamasya ke Hongkong berdua. Hal yang aneh bukan? Kalau anaknya cacat, umumnya orangtua akan melarang dengan berbagai cara, atau mereka ingin ikut untuk menjaga anaknya. Tapi hal itu tidak ditemukan. Termasuk pada saat mereka sekolah di SD Yohga. Mereka mempercayakan semuanya kepada guru Oto, yaitu Sensei Ototake. Mereka tidak rewel sekolah  harus ini itu mengingat Oto terlahir berbeda dibanding anak yang lain.

Orang tua oto mendidik dengan pemikiran bahwa Oto harus bisa melakukan hal-hal yang sifatnya umum dan mereka tidak ingin Oto tumbuh menjadi pribadi yang minder karena kondisi fisiknya. Mereka bahkan termasuk percaya dengan Otochan. Hal itu terlihat saat Oto ingin kuliah di Waseda. Fokusnya di Waseda. Mereka sudah melakukan kontrak sewa apartemen yang dekat dengan Waseda.Kalau sampai gagal masuk Waseda, mereka dalam masalah besar secara finansial dan tempat tinggal. Padahal posisi Oto saat itu belum juga tes di waseda, masih semacam ikut program bimbel. Saya kalau jadi orangtuanya mungkin tidak akan berani mengambil risiko seperti itu. Atau mungkin justru tekanan seperti ini membuat seseorang, dalam hal ini Oto makin terpacu untuk bisa diterima di Waseda?

Sebagai pribadi yang penuh percaya diri dan sangat aktif, membuat Oto memiliki penggemar rahasia di kelas 9. Walaupun Oto tidak tahu siapa anak kelas 7 yang mengirimi surat cinta itu, tapi itu membuka persepsi saya di sisi lain . Seorang Oto yang memiliki cacat fisik seperti itu, ternyata tetap memiliki seorang idola. Bukankah umumnya di usia seperti itu, orang tertarik atau jatuh cinta atau cinta monyet karena fisiknya? Ternyata ada orang yang melihat dirinya dari kacamata yang lain, bukan karena fisiknya. Bayangkan, hal seperti ini kalau saya sih itu membangkitkan rasa percaya diri saya hahahaha.

Sesudah kehidupan di Waseda, kisahnya mulai tidak menarik sih, apa ya, bukan sesuatu yang wow. Walau ada prestasi prestasi lain sih, misalnya juara pidato dalam bahasa inggris, kemudian ikut menjadi semacam panitia festival gitu dan menjadi pembicara di depan publik , menjadi ketua komite abad 21 dan lain sebagainya, tapi bukan sesuatu yang perlu saya tulis disini, karena perjuangan dan pembentukan  karakter Otochan sangat terlihat menarik dari TK hingga memasuki perguruan tinggi saja. Saya sarankan kalian untuk membacanya, terutama bagi kalian yang merasa minder dengan diri kalian.Kalau Otochan yang cacat seperti ini saja sangat percaya diri dengan hidupnya, kenapa kalian para pemuda yang memiliki organ tubuh lengkap merasa hidupnya merana dan tersisih? Bangunnnnnnnn dan berjalanlah dengan sikap yang optimis menyongsong masa depan!

 

 

 

No comments:

Post a Comment