Labels

Wednesday, July 14, 2021

Tarian Lengger Maut: banyak bagian yang masih menjadi tanda tanya

 


Kali ini saya akan membahas film Tarian Lengger Maut yang rilis bulan Mei kemarin. Karena sudah selisih 3 bulan, maka review ini akan spoiler tentang film tersebut. Saat menonton trailernya, ekspektasi saya sudah sangat tinggi karena film ini secara cinematografi sangat memanjakan mata. Belum lagi film ini dibuat oleh Visinema Picture. Bagi saya, film-film buatan Visinema memiliki nilai lebih dalam hal pengambilan gambar, jadi harapan saya cukup tinggi.

Belum lagi film ini juga mengangkat suatu budaya lokal, ditambah dengan beberapa potongan adegan yang menunjukkan setting pada masa dulu, yah sekitar 1960- 1970an mungkin. Kebetulan secara pribadi saya suka dengan film-film yang mengambil seting pada masa lampau , ada nuansa sejarah saja sih bagi saya, hehehee. Cuma, begitu melihat durasi yang hanya 71 menit, timbul pertanyaan dalam diri saya, film ini mau dibuat seperti apa kalau durasi waktunya sangat padat hanya satu jam. Saya berpikir negative bahwa akan ada banyak plot hole yang menjadi pertanyaan bagi saya sebagai penonton awam.

Film yang disutradarai oleh Yongki Ongestu sendiri sejak awal dibuka dengan nuansa yang mencekam, bagaimana seorang pembunuh berdarah dingin dengan status seorang dokter membunuh tanpa rasa belas kasihan kepada seseorang untuk diambil jantungnya. Pada adegan ini jujur membuat saya merinding dan tidak berani melihat dengan mata terbuka , wkwkwkwkwkw. Musik yang sangat mendukung ditambah ekspresi korban yang ketakutan namun tidak bisa berbuat apa-apa saat tubuhnya dioperasi untuk diambil jantungnya. Korban hanya bisa meneteskan air mata sebelum akhirnya meninggal.

Dokter Jati yang merupakan dokter baru di Desa Pagar Alas, bisa dibilang justru membawa bencana karena satu persatu warga hilang. Pertemuan antara Dokter Jati dengan Sukma, calon lengger Pagar Alas membuat jantung Dokter Jati berdegup Kencang. Sementara itu, banyaknya warga yang hilang membuat Warga menjadi ketakutan menjelang  malam dan mereka meyakini Satunya yang dapat menghentikan petaka ini adalah dengan ritual Tarian Lengger. Sementara itu Sukma sebagai calon penari Lengger juga melakukan ritual untuk mendapatkan anugrah Indang yang dipercaya dapat melindungi sang penari lengger dan desanya.

Pada saat menonton film ini, ada banyak pertanyaan dalam diri saya, faktor apa yang menyebabkan Dokter Jati sangat terobsesi dengan Jantung. Walau ada kilas balik kehidupan masa kecilnya, itu tetap tidak dapat menjawab rasa penasaran saya mengapa dia menjadi terobsesi dengan jantung sehingga harus melakukan pembunuhan untuk mengambil jantung seseorang dalam keadaan hidup.  

Dan endingnya itu saya berpikir bahwa Sukma akan menggunakan semacam magic untuk menyingkirkan Dokter Jati. Di dalam otak saya, akan muncul plot dimana kedok Dokter Jati akan terbongkar dan mencoba membunuh Sukma, sementara Sukma yang ketakutan akan menggunakan semacam ilmu klenik untuk melindungi dirinya. Dokter Jati yang kehilangan akal untuk menyingkirkan Sukma, akhirnya menggunakan pengaruhnya sebagai seorang dokter berpendidikan tinggi untuk menghasut warga. Dia akan memfitnah  bahwa Sukma merupakan seorang penganut paham komunis yang tidak percaya pada Tuhan. Sosok yang menggunakan ilmu hitam untuk mencelakai orang. Warga masyarakat yang akhirnya terpengaruh akhirnya mengejar Sukma dan berusaha untuk main hakim dan membunuh Sukma. Itu scenario yang ada dalam pikiran saya lho.

Mengapa saya berpikiran begitu? Karena saya melihat setingnya yang merupakan seting lama. Itu bisa dilihat dari mobil yang digunakan Dokter Jati serta style penampilan Dokter Jati. Di masa-masa setelah tahun 1965, stemple Komunis tentu stemple yang sangat mengerikan disematkan bagi seseorang. Sekali orang mendapatkan stemple tersebut, bisa dipastikan masa depannya akan rusak. Hal ini sesuai dengan latar belakang Sukma yang merupakan penari lengger,penari tradisional. Hal yang saya ingat  dengan konteks yang sama tentang tokoh Srintil dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk dengan seting waktu yang sama.

Namun, background seting ini juga akhirnya menjadi tanda tanya bagi saya, karena di banyak adegan, para penduduk banyak yang menggunakan pakaian seperti sekarang, terutama banyak Wanita yang menggunakan hijab. Kebetulan di berbagai film yang mengambil seting sebelum tahun 2000, saya tidak menemukan figuran-figuran yang menggunakan hijab. Kalaupun menggunakan semacam hijab, itu adalah kerudung yang hanya digunakan pada waktu tertentu, sementara hijab yang digunakan para figuran di film ini adalah jenis hijab era sekarang. Hal yang membuat saya Kembali bertanya, seting waktu film ini menceritakan tahun berapa ya kira-kira?

Kemudian banyaknya orang yang hilang tiba-tiba. Itu juga menjadi pertanyaan bagi saya, mengapa para warga diam saja, tidak ada yang melapor ke polisi. Atau, kalau misalnya Polisi tahu, tidak dimunculkan keterlibatan polisi dalam mencari orang-orang yang hilang. Kalau konteksnya masa lampau sekali, mungkin itu bisa terlaksana, tapi sudah agak modern, kok sepertinya mustahil polisi diam saja dengan banyaknya warga yang hilang dalam satu wilayah. Apalagi di salah satu adegan saat Sukma sedang mandi di sungai tengah malam kala menjalani suatu ritual, saat itu di jembatan dekat dia mandi, Dokter Jati membuang mayat ke sungai. Bayangan saya, seharusnya mayat itu akan ditemukan, apalagi korban tidak hanya satu melainkan banyak.

Belum lagi di bagian Ending kala Sukma mengetahui kedok Dokter Jati yang ternyata seorang pembunuh. Endingnya bikin saya bertanya-tanya, loh, kok Cuma seperti ini? Tidak ada suatu hal yang bikin wow gitu, tapi yang ada malah bikin gregetan. Tokoh yang menjadi pembantu di rumah Dokter Jati juga menjadi tanda tanya bagi saya, betul dia dikisahkan tuli, namun apakah dia benar-benar selugu itu sehingga tidak mengetahui di rumah itu terjadi pembunuhan berkali-kali?

Walau ada banyak pertanyaan, setidaknya film ini juga memiliki nilai plus. AKting Della Dartyan dan Refal haldy patut diacungi jempol. Ekspresi mereka bagus dan menjiwai. Mengangkat budaya lokal menjadi sebuah film juga menjadi poin plus bagi saya. Dan, yah, cinematografi yang memanjakan mata juga tentu saja menjadi poin lebih dari film ini. Belum lagi nuansa banyumasan terasa cukup kental dengan logat ngapaknya. Terlepas plus minusnya, maka film ini tetap patut diapresiasi dan ditonton. Akhir kata, selamat menonton.

 

No comments:

Post a Comment