Labels

Sunday, November 29, 2020

Totto Chan dan teman-temannya


Judul buku                          : Totto Chan’s children

Pengarang                          : Tesuko Kuroyanagi

Penerbit                              : Kompas Gramedia Jakarta

Tahun Terbit                      : Februari 2010, 328 halaman

Totto chan, buku ini tiba tiba ingin saya baca lagi di tahun 2020 ,padahal saya sudah pernah membacanya sekitar 7 tahun lau. Tapi buku ini tiba tiba menggugah saya untuk membacanya lagi karena memang bukunya menurut saya cukup menarik. Bagi yang sudah pernah membaca buku Totto Chan yang pertama, maka membaca buku ini merupakan suatu anjuran.

Buku totto yang pertama menceritakan masa kecil toto yang unik dan sekolah di kereta yang dijadikan ruang kelas. Buku yang kedua, Totto alias Tetsuko sudah beranjak dewasa, menjadi seorang artis terkenal di Jepang. Pengalaman hidup Totto menjadikan UNICEF tertarik menjadikannya duta kemanusiaan UNICEF yang dengan segera langsung diterima oleh Totto.

Selama menjabat sebagai duta kemanusiaan UNICEF, Totto sudah mendatangi berbagai negara , dari tahun  1984 hingga tahun 1996. Ada Tiga belas negara yang dikunjungi oleh Totto dan dituangkan di dalam buku ini. Mulai dari Tanzania di tahun 1984, Nigeria tahun 1985, India tahun 1986, Mozambik 1987, Kamboja dan Vietnam di tahun 1988, Angola di tahun 1989, Bangladesh di tahun 1990, Irak I tahun 1991, Etiopia di tahun 1992, Sudan di tahun 1993, Rwanda di tahun 1994, Haiti di tahun 1995 serta yang terakhir Bosnia Herzegovina di tahun 1996.

Setiap negara memiliki permasalahannya sendiri sendiri yang berdampak besar terhadap anak-anak. Totto melihat bagaimana Bencana kelaparan,kekeringan, perang saudara, mengakibatkan dampak besar terhadap anak-anak, aik secara fisik maupun psikologi mereka.

Di Tanzania, rata rata 600 orang mati karena kelaparan atau penyakit. Banyak anak-anak yang kekurangan gizi disini. Seorang anak hanya untuk mencari air saja harus mencari air sejauh 9 Km . Karena tingkat kematian yang tinggi maka rata rata dalam keluarga memiliki 8 anak karena anak merupakan suatu investasi. Hanya saja di Tanzania selain factor kematian, juga ada kepercayaan tradisional bahwa orang yang sudah meninggal akan dilahirkan kembali sebagai cucu atau cucu buyut dari orang yang meninggal. Hal ini mengakibatkan semakin banyak anak yang dilahirkan maka semakin besar peluang mereka untuk bisa dilahirkan kembali .

DI Nigeria, dalam kurun waktu 1957- 1985 terjadi perluasan Gurun Sahara yang mencapai lebih dari setengah wilayah Nigeria dengan curan hujan hanya 2,5cm/tahun pada tahun 1984. Hal ini mengakibatkan orang-orang kesusahan dalam mencari air. Di negara ini, ada banyak suku nomad yang memiliki hewan ternak dimana kematian hewan ternak bagi mereka merupakan suatu bencana besar. Pemerintah dan UNICEF sudah menanam 40ribu pohon . Anak-anak di negara ini banyak yang terkena campak sebagai akibat dari susahnya mendapat air. Perluasan gurun pasir (desertifikasi) di negara ini terjadi karena pasokan listrik yang sangat kurang di sehingga penduduk menebang pohon sebagai bahan bakar di rumah. Totto disebut sebagai duta kemanusiaan hujan bagi penduduk di sana.

Sementara itu, Totto melihat angka kematian anak di India sangat besar dan merupakan terbesar di Asia saat itu. Pada saat itu sekitar24 juta anak lahir di India pertahun tapi tingkat kematian mencapai lebih dari 10 persen. Penyebab utama kematian adalah karena tetanus yang memerlukan vaksinasi. Totto yang sangat akrab (bersentuhan fisik ) dengan anak anak menjadi berita besar di India karena di India tidak mungkin orang kaya melakukan hal tersebut. Hal ini berkaitan dengan sistem kasta yang sangat kuat.

Peristiwa di Mozambik sungguh sangat memilukan karena negara tetangga ikut campur dalam usaha unuk menghancurkan negara tersebut. Afrika Selatan sebagai pelaku apartheid kuatir bila negara tetangganya berhasil memerintah dengan baik maka akan menimbulkan gejolak di dalam Afrika selaan sehingga mereka membantu tentara anti pemerintah untuk melawan pemerintah.

Dampak dari perang saudara ini adalah lebih dari setengah klinik hancur dan lebih dari sepertiga sekolah hancur. Anak-anak banyak yang menjadi korban, mereka tidak bisa bicara, hilang ingatan maupun kaki hancur atau mata yang buta. Ada satu hal yang sangat menyentuh saya kala Totto memberikan hadiah kepada presiden Mozambik ,Chissano, dan sang presiden mengatakan bahwa teropong itu untuk meneropong masa depan. Suatu hal yang menunjukkan rasa optimis dalam membangun negeri.

Perjalanan di Kamboja dan Vietnam membuka hati siapapun, bagaimana di Kamboja terjadi pembantaian besar-besaran oleh Pol Pot .Semua RS dihancurkan  dan hanya ada 35 panti asuhan diseluruh negeri. Banyak orang oang terpelajar yang dibunuh. Bangunan budaya pun dihancurkan kala kepalapatung patung di Angkor Wat dihancurkan. Di Vietnam sekolah malam banyak ditemukan karena anak-anak di pagi hari bekerja dan malamnya mereka baru belajar.

Di Angola, perang saudara yang sudah berjalan 15tahun membawa cerita sedih. Perang di angola sama seperti di Mozambik bahwa tentara anti pemerintah didukung oleh Afrika Selatan yang tidak ingin pemerintahan kulit hitam berhasil dalam mengatur negeri mereka masing-masing. Jumlah guru dan dokter yang ada di negara ini sangat kurang.Walau begitu, Anak-anak tetap haus akan pendidikan walau  terpaksa membawa kursi sendiri untuk belajar disana.

Di Bangladesh kasus utama adalah seringnya banijr besar yang melanda. Tingkat kematian anak yang tinggi yaitu 900.000 anak di bawah usia 5 tahun mati tiap tahunnya. Selain itu memiliki anak perempuan d negara ini dianggap suatu masalah, sama seperti di India. Hal ini dikarenakan anak perempuan kelak yang akan membayar mas kawin kepada keluarga laki-laki. Namun anehnya, di Bangladesh, anak laki-laki cenderung lebih banyak di sekolahkan daripada anak perempuan. Tingkat kemiskinan di Bangladesh yang begitu tinggi memuat M.Yunus memiliki ide untuk memuat Bank Grameen yang menyasar para perempuan perempuan miskin di Bangladesh.

Anak-anak juga menjadi Korban selama konflik terjadi di Irak . Selesai perang teluk, maka infrastruktur mengalami kerusakan yang parah. Tidak ada listrik yang mengalir kesana. Sementara anak-anak yatim piatu digunakan orang dewasa untuk mendeteksi ranjau darat.

DI Etiopia , perang saudara mengakibatkan bencana kemanusiaan yang parah. Para pengungsi dari Somalia datang ke Etiopia karena berpikir kalau di Etiopia ada makanan. Anak-anak di pengungsian ditimbang untuk menentukan mereka layak diberik atau tidak. Seperti di Nigeria , di Etiopia kekeringan terjadi parah karena para penduduknya menebang pohon untuk mengganti listrik . Hal ini mengakibatkan hutan di Etioia menjadi hilang. Selain itu, hwan-hewan juga memakan pohon yang tersisa. Saat terjadi banjir mendadak, air mengalir dan menghilang dengan cepat.

Kekeringan juga terjadi di Nigeria dimana 60% penduduknya bergantung pada program bantuan luar negeri. Hal ini juga diperparah dengan perang saudara yang intens. Anak-anak tidak hanya menjadi korban perang, tapi mereka juga terluka diserang oleh heyna.

Perang antar etnis di Rwanda yang melibatkan suku hutu yang mayoritas dengan suku Tutsi juga berdampak pada anak-anak. Para pengungsi yang dari suku Hutu melarikan diri ke Zaire karena takut akan balas dendam dai suku Tutsi. Di sini ditemukan banyak anak-anak yang dijadikan tentara. Begitu besar kengerian yang terjadi di Rwanda sehingga ada ungkapan “ tidak ada iblis di neraka. Mereka semua berkumpul di negara kami, Rwanda.”

Di Haiti, hutan menjadi gundul karena pohon ditebang untuk djijadikan arang. Tingkat pengangguran di Haiti mencapai 80% sementara pekerja  prositusi anak biasa ditemukan dimana 72 pelacur di Haiti terinfeksi HIV . Negara ini memang tidak sempat membangun karena sebelum nya dikuasai oleh militer maupun dikuasai dictator. Pemerintahan yang demokratis hanya bertahan sebentar di tahun 1990 dan di tahun 1995 akhirnya pemerintahan kembali ke sipil.

Di Boznia, perang saudara juga mengakibatkan bencana. Anak –anak berpikir untuk menjadi 0 tahun alias masih ada di dalam perut ibunya karena begitu besar goncangan hidup yang diterima. Banyak dari mereka yang menjadi korban ranjau darat akibat perang saudara yang melibatkan tiga etnis di sana.

Fakta yang mencengangkan adalah anak-anak Afrika tidak tahu hewan Gajah dan Jerapah . Mereka hanya mampu menggambar lalat dan kaki yang lemah karena hebatnya kekeringan di wilayah itu. Anak-anak ini walau menjadi korban, tapi banyak yang melihat sesuatu dengan optimis. Seorang anak perempuan di Vietnam yang kehilangan dua matanya, tetap rajin dalam belajar. Membaca buku ini membuka mata kita mengenai kisah pilu di negara negara berkembang dan dampaknya bagi anak-anak. Silahkan membaca buku ini.

 

No comments:

Post a Comment