Labels

Tuesday, January 12, 2016

Rakuti, pemberontak paling berbahaya era jayanegara



Judul buku                          : Gajah mada : Makar Dharmaputra
Pengarang                          : Langit Kresna Hariadi
Penerbit                              : Tiga Serangkai Solo
Tahun terbit                       : 2012
Jumlah halaman               : 582 halaman
Akhirnya membaca seri Gajah mada setelah sekian lama berusaha untuk meluangkan waktu begitu sukar karena sudah terlalu takut dengan tebalnya novel ini. Keinginan membaca novel ini hanya karena ingin mengetahui sejarah masa lampau yang diracik dalam bentuk fiksi, apalagi selain saya menyukai novel fiksi sejarah saya juga pernah mengajar sejarah indonesia (walau hanya setahun) sehingga ingin membandingkan bagaimana isi dari novel ini dengan jalur asli versi yang resmi pemerintah. Saya selalu menyukai novel novel kerajaan lengkap dengan berbagai intrik politik di dalamnya dalam rangka meraih kekuasaan.

Novel ini dimulai dengan keinginan Dharmaputra Winehsuka yang ingin merebut kekuasaan dibawah pimpinan Ra Kuti, dengan kelihaiannya, dia mampu memengaruhi pimpinan pasukan Jala Renggana, yaitu Pujut Luntar untuk memimpin pasukan dengan imingiming posisi Mahapatih. Hanya saja pasukan ini dengan segera hancur saat berhadapan dengan pasukan Jalapati pimpinan Banyak Sora. Akhirnya Rakuti memengaruhi Panji Watang yang memimpin pasukan jalayuda untuk menyerang, dengan cara licik, Rakuti membunuh Panji Watang dan Banyak Sora. Sejak Awal Gajahmada sudah diberithu oleh sosok rahasia yang bernama bagaskara manjer kawuryan agar segera bertindak untuk menangani pemberontakan yang akan segera terjadi.
Situasi yang demikian buruk memaksa anggota keluarga kerajaan diungsikan ke tempat lain. Inilah serunya novel ini, bagaimana Bekel Gajah Mada dengan cerdik mampu memerdayai telik sandi Rakuti yang disusupkan dalam anggota Bayangkara, bahkan akhirnya membongkar telik sandi yang berhianat itu. Sementara itu Rakuti akhirnya harus pontang panting dalam memburu Jayanegara, mengingat posisinya yang tidak kuat sehingga dia memburu dua sekar kedaton untuk menikahi mereka dan mengukuhkan kekuasaannya.
Novel ini bercerita tentang ambisi seorang anggota Dharmaputra, dan dampak yang ditimbulkan dari perebutan kekuasaan yang berakhir dengan peperangan. Jaman memang berubah, tapi dampak dari sebuah peperangan akan sama. Tidak adanya ketenangan, ketakutan, perampokan dan pemerkosaan menjadi hal yang lumrah. Rakuti yang awalnya berharap mendapat dukungan dari rakyat justru berbalik membencinya karena kerusakan tatanan akibat dari peperangan, yang dimulai dari terbunuhnya Kayun, seorang penduduk biasa yang stress ingin bertemu dengan rakuti akibat adik dan istrinya diperkosa sementara ayahnya meninggal kena serangan jantung tapi dengan kejam dibunuh oleh ra Pangsa. Masyarakat yang melakukan pepe justru disingkirkan dengan alasan pasukannya sangat dibutuhkan untuk mempertahankan kekuasaan daripada menuruti keinginan masyarakat agar para pelaku pemerkosaan dan perampokan diserahkan serta diadili.
Upaya upaya untuk memertahankan kekuasaan juga bisa dilihat bagaimana Rakuti menyingkirkan pimpinan pasukan yang sekiranya membelot dan diganti dengan orang orang yang menjadi pendukungnya, dan memberikan mereka hadiah dan kedudukan tinggi agar menjadi loyal. Saya sangat menyuka novel ini karena kisahnya akan relevan sampai kapanpun karena kekacauan akibat peperangan membuat terjadi huru hara, bagaimana orang dengan mudah mengail di air keruh dan menyingkirkan orang orang yang tidak disukainya, atau justru melakukan tindakan kejahatan dengan posisi sedang kacau adalah hal biasa itu terjadi dan akan pulih dengan sendirinya saat tatanan sudah diperbaiki kembali. Barang barang makanan yang mulai hilang dan harga yang menjadi mahal juga terjadi dalam novel ini yang sepertinya berusaha untuk melihat situasi dulu dengan peristiwa sekarang ini apabila terjadi huru hara, misalnya di tahun 1998 atau 1965.
Tapi ada beberapa hal yang saya kurang sreg dengan isi novel ini , beberapa peristiwa penting misalnya bahwa dharma putra winehsuka merupakan gelar yang diberikan oleh raden Wijaya pada sekelompok orang yang berjasa, sementara di novel ini gelar itu diberikan oleh jayanegara.  Selain itu jumlah anggota dharmaputra Winehsuka ada 7 orang yaitu Rakuti, Ra Semi, Ra Banyak, Ra Pangsa ,Ra Yuyu, Ra Wedeng, dan Ra Tanca, sementara di novel ini hanya ada enam, dan tokoh Ra Semi dihilangkan, di sumber lain, memang ra semi melakukan pemberontakan lain terpisah dari ra kuti, tapi setidaknya Langit Kresna juga perlu mencantumkan nama ra semi sebagai bagian dari Dharmaputra Winehsuka
Begitu juga dengan kematian jayanegara yang dibunuh oleh Ratanca oleh Langit Kresna ditafsirkan bahwa  Jayanegara dibunuh karena dendam Ra Tanca akibat menyukai Rajadewi, saudara tiri Jayanegara, yang kemudian dpermalukan oleh jayanegara. Selain itu jarak antara kematian jayanegara dengan pemberontakan Ra Kuti selisih 9 tahun kalau tidak salah, sementara di novel ini justru selisih sangat dekat, terjadi begitu pemberontakan sudah selesai dan alasan pembunuhan jayanegara oleh Ra Tanca, padahal di Pararaton dijelaskan bahwa Ra tanca setelah pemberontakan diampuni oleh Majapahit tetap menjadi tabib istana, tapi karena istrinya mendengar cerita bahwa Jayanegara bermaksud untuk menikahi dua sadaranya sendri demi melanggengkan kekuasaan maka Ra tanca membunuhnya.
Akhirnya saya berpikir juga, kira kira berapa usia Dyah Gitarja dan Dyah Wiyat saat mereka menikah kalau di novel ini sudah muncul Cakradara dan Kudamerta, padahal dengan selisih 9 tahun, maka , katakanlah mereka usia 15 tahun, berarti saat pembunuhan terjadi, usia mereka sudah 25 tahun dunk, dan Pararaton menjelaskan bahwa Jayanegara menyingkirkan setiap satria yang berpeluang untuk menikahi dua saudaranya sehingga satria satria yang tersisa memilih bersembunyi, artinya bisa dtafsirkan bahwa saat itu Cakradara dan Kudamerta harusnya belum muncul.
Belum lagi adanya tokoh lembu anabrang. Bayangan saya mengingat Anabrang ya kebo anabrang yang meninggal saat pemberontakan ranggalawe, dia bisa membunuh Ranggalawe tapi lembu sora yang tidak terima ponakannya dibunuh akhirnya berbalik membunuh Anabrang, dan itu jaraknya adalah cukup jauh dari peristiwa rakuti.
Masih ada lagi tokoh Mahapati, di beberapa sumber yang pernah say abaca, mahapati itu meninggal setelah pemberontakan Dharmaputra selese dan dijatuhi hukuman mati, hal ini karena dharmaputra dianggap penghalang yang membahayakan. Mahapati akhirnya djatuhi hukuman mati setelah dketahui dengan lidahnya dia berhasil membuat kekacauan dan pemberonakntakan besar seperti Ranggalawe, lembu sora, nambi dan Rakuti.Tapi di novel ini , justru Dharmaputra yang dipimpin Rakuti merupakan keponakan Mahapati yang memiliki sifat seperti Mahapati yanglicik.
Ada satu kesalahan fatal mengenai persembunyian Jayanegara. Di pararaton tertulis di Desa Badander, dan itu juga dipakai di berbagai buku buku pelajaran sekolah tapi Langit dengan berani menulis di Kudadu. Saat saya membaca saya mencoba berpikir apakah memang kudadu itu sama dengan bedander, tapi itu sangat beda sekali,Kudadau sepengetahuan saya adalah nama prasasti di desa ini, hmmm, mungkin saya yang tidak tahu mengingat pengetahuan sejarah saya masih dangkal.
Kemudan adanya telik sandi ini yang dibunuh oleh Gajahmada, itu dibunuh di Bedander karena ada satu prajurit yang ngotot ingin pulang ke desanya dan itu ditolak oleh Gajahmada karena takut kalau tempat persembunyian di Bedander bakal ketahuan oleh Rakuti, sejak awal saya membaca saya sudah memiliki imajinasi seperti apa kisahnya  dan penasaran seperti apa Langit Kresna menafsirkanpembunuhan telik Sandi oleh Gajahmada , tapi ternyata di novel ini, tokoh prajurit itu  yaitu Singa Parepen tidak dibunuh dengan cara yang seperti di buku, melainkan dengan cara dan waktu serta oleh tokoh yang berbeda. Hal ini bikin geregetan, kok jadi begini ya? Hehehe
Bagi yang tidak membaca kisah sejarah mungkin bisa mengikuti novel ini dengan tenang, tapi bagi yang membaca kisah sejarah, apalagi anak anak smp dan sma yang sudah membaca pelajaran sejarah nasional di sekolah maka akan sedikit membingungkan untuk menghubungkan data sejarah dan kisah novel ini.
Walau ada beberapa kesalahan, tapi secara umum saya sangat merekomendasikan novel ini untuk dibaca agar menambah wawasan sejarah masa lampau Indonesia. Akhir kata, selamat membaca

No comments:

Post a Comment